Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) dan anggota parlemen Amerika Serikat memiliki rencana berbeda dalam menjelajahi ruang angkasa. NASA ingin menangkap asteroid seperti di film Armageddon, sementara legislator AS menginginkan NASA meneruskan eksplorasi di bulan.

Saat mengusulkan anggarannya untuk tahun 2014, NASA menegaskan untuk tetap melakukan proyek ambisius dengan mendaratkan astronot di asteroid. Tetapi, legislator AS meminta NASA untuk tetap meneliti bulan sampai tahun 2020.

Presiden Barack Obama sudah menyetujui rencana NASA dengan memberikan anggaran sebesar US$1 juta, setara Rp9,7 miliar, untuk tahun 2014. Tadinya, NASA akan mengirimkan astronotnya ke batu luar angkasa dengan menggunakan roket luar angkasa dan kapsul Orion pada tahun 2012.

Namun, beberapa anggota DPR terang-terangan menolak rencana NASA menangkap asteroid, dan menagih janjinya yang pernah menyatakan akan mendaratkan astronot kembali di bulan pada tahun 2020 pada acara "RE-asserting American Leadership in Space Act" tahun 2012 silam.

"Bulan adalah benda luar angkasa yang paling dekat dengan Bumi dan untuk mencapainya hanya memerlukan beberapa hari," kata Bill Posey, politisi dari Partai Republik, yang dilansir dari The Christian Science Monitor, Jumat 12 April 2013.

"Seharusnya NASA melanjutkan misi ke bulan untuk pengembangan teknologi dan mengeksplorasinya lebih jauh," tegas Posey.

Rancangan Undang-undang

Menurut Rob Bishop, Anggota Dewan AS dari Partai Republik, perlu dipercepat rampungnya Rancangan Undang-Undang (RUU) yang nantinya bukan hanya sekadar mendaratkan astronot di bulan. 

"Tetapi juga menjaga agar program ruang angkasa memiliki tujuan yang jelas dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi bangsa AS. Peraturan ini akan memperjelas peran NASA dalam melakukan misi luar angkasa," kata Bishop.

Kepala NASA, Charles Bolden, menyatakan tetap pada pendirian untuk mendaratkan manusia di asteroid. Namun, ia mengakui, bahwa rencana itu tidak akan direalisasikan dalam waktu dekat.


"NASA tidak akan pergi ke bulan dengan menggunakan manusia sebagai penelitinya. Masih ada hal penting lainnya yang harus dilakukan oleh NASA," pungkas Bolden.

Sumber : viva.co.id

Post a Comment

 
Top